SJejak Siulak
Budaya & Adat Suku Kerinci di Kecamatan Siulak

Adat Suku Kerinci yang Masih Hidup di Desa Dusun Baru, Siulak

Adat Suku Kerinci di Desa Dusun Baru, Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi, tetap hidup lewat kenduri, pusaka, dan musyawarah warga.

Adat Suku Kerinci yang Masih Hidup di Desa Dusun Baru, Siulak

Ringkasan Cepat

  • Desa Dusun Baru adalah ibu kota Kecamatan Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi.
  • Siulak pernah menjadi pusat pemerintahan sebelum ibu kota Kabupaten Kerinci dipindah ke Kota Sungai Penuh pada 2009.
  • Tradisi kenduri, tepung tawar, dan musyawarah adat masih dijalankan warga Dusun Baru.
  • Sistem kekerabatan matrilineal Kerinci terlihat pada peran ninik mamak dan penghulu.
  • Ekonomi warga bertumpu pada kopi, padi, dan sayur dataran tinggi.

Kenduri di Bawah Atap Rumah Panggung

Pagi di Dusun Baru dimulai dengan suara kayu dipanaskan di dapur. Di beberapa rumah panggung yang masih berdiri di tepi jalan kecamatan, tungku menyala lebih awal karena ada hajatan. Warga Siulak mengenalnya sebagai kenduri, dan di Desa Dusun Baru acara ini bukan sekadar makan bersama. Ada urutan yang harus dipatuhi: keluarga laki-laki datang lebih dulu membawa bahan mentah, perempuan menyiapkan di dapur, lalu ninik mamak duduk di ruang tengah untuk memimpin doa.\n\nDesa Dusun Baru dikenal sebagai ibu kota Kecamatan Siulak. Sebelum 2009, Siulak pernah memegang peran penting dalam pemerintahan Kabupaten Kerinci. Setelah ibu kota kabupaten dipindahkan ke Kota Sungai Penuh lewat pengesahan Menteri Dalam Negeri pada 8 Oktober 2009, banyak orang mengira tradisi di Siulak akan ikut surut. Kenyataannya tidak. Justru di tingkat desa, adat berjalan lebih lambat dan lebih rapat.\n\nSalah satu yang masih dijaga adalah tepung tawar. Tepung ini terbuat dari beras yang ditumbuk halus, dicampur kunyit, dan ditaburkan ke telapak tangan tamu saat acara pernikahan atau sunatan. Di Dusun Baru, tepung tawar tidak dijual di pasar. Setiap keluarga yang punya hajatan menyiapkannya sendiri, biasanya dibantu tetangga satu lorong.

Ninik Mamak dan Musyawarah yang Belum Hilang

Sistem kekerabatan Suku Kerinci menarik garis keturunan dari ibu. Di Dusun Baru, konsekuensinya terasa di meja musyawarah. Ketika ada sengketa tanah, warisan, atau batas kebun, yang dipanggil lebih dulu bukan aparat desa, melainkan ninik mamak, yaitu saudara laki-laki dari pihak ibu.\n\nPraktiknya sederhana. Warga yang berselisih duduk di rumah salah satu ninik mamak. Tidak ada meja formal, hanya tikar dan kopi. Percakapan bisa berlangsung beberapa malam. Keputusan diambil setelah semua pihak bicara, lalu dikukuhkan di kantor desa sebagai catatan administratif. Cara ini masih dipakai di Dusun Baru karena biaya dan waktunya lebih ringan dibanding jalur hukum.\n\nPeran penghulu juga belum hilang, meski kini lebih banyak mengurus hal seremonial seperti pernikahan dan kematian. Di beberapa jorong, penghulu masih menyimpan catatan silsilah keluarga. Catatan itu dipakai saat ada warga yang hendak menikah dan perlu memastikan tidak ada hubungan darah yang terlalu dekat.\n\nYang menarik, adat ini tidak bertabrakan dengan administrasi modern. Kepala desa tetap menjalankan tugas pemerintahan, sementara ninik mamak menangani hal yang dianggap urusan keluarga besar. Pembagian peran itu berjalan tanpa aturan tertulis, diwariskan lewat kebiasaan.

Kopi, Padi, dan Alasan Adat Bertahan

Dusun Baru berada di dataran tinggi Kerinci. Udara dingin, tanah vulkanik, dan hujan yang datang hampir sepanjang tahun. Warga menanam kopi arabika, padi, dan sayur seperti kubis dan wortel. Hasil panen dibawa ke pasar Siulak atau dijual ke pengepul yang datang dari Sungai Penuh.\n\nEkonomi pertanian ini justru membantu adat bertahan. Panen kopi dan padi dilakukan bergotong royong. Ketika satu keluarga panen, tetangga datang membantu tanpa upah, dan tuan rumah menyediakan makan siang. Sistem ini disebut tolong-menolong, dan nilainya sama dengan kenduri: menjaga hubungan, bukan mengejar untung.\n\nAnak muda Dusun Baru banyak yang merantau ke Jambi, Padang, atau Jakarta. Namun mereka biasanya pulang saat ada hajatan besar. Mereka yang pulang membawa uang, dan sebagian dipakai untuk membiayai kenduri. Di titik ini adat dan ekonomi bertemu: tradisi butuh biaya, dan perantau menyediakan biaya itu.\n\nTantangannya tetap ada. Rumah panggung kayu mulai digantikan bangunan beton. Tepung tawar kadang diganti beras biasa karena kunyit sulit didapat. Musyawarah adat kadang ditunda karena ninik mamak sudah tua dan penerusnya merantau. Warga Dusun Baru menyadari hal ini, tetapi belum semua sepakat soal cara mengatasinya.\n\nYang jelas, adat di Dusun Baru tidak hidup di museum. Ia hidup di dapur, di tikar musyawarah, dan di kebun kopi. Selama kenduri masih digelar dan ninik mamak masih duduk, adat Suku Kerinci di desa ini akan tetap berjalan.

Tonton Video

Orang Juga Bertanya

Di mana Desa Dusun Baru berada?

Desa Dusun Baru terletak di Kecamatan Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi, dan menjadi ibu kota kecamatan.

Apa tradisi adat yang masih dijalankan di Dusun Baru?

Kenduri, tepung tawar, musyawarah ninik mamak, dan gotong royong panen masih dijalankan warga.

Apakah Siulak pernah menjadi ibu kota Kabupaten Kerinci?

Siulak berperan penting dalam pemerintahan Kerinci sebelum ibu kota dipindah ke Kota Sungai Penuh, disahkan Menteri Dalam Negeri pada 8 Oktober 2009.

Apa mata pencaharian utama warga Dusun Baru?

Sebagian besar warga bertani kopi arabika, padi, dan sayur dataran tinggi.